Dosakah Bila Aku Bersu’udhan Terlebih Dahulu?

Alhamdulillah UAS hari akhir pun telah selesai, dengan mata kuliah penutup adalah Sistem Geometri. Huft… Soal sama penagawasnya nggilani tenan 😥 Tapi semoga aja hasilnya memuaskan. Aamiin 
Hal yang paling ditunggu – tunggu setelah selesai UAS bagi mahasiswa yang ‘merantau’ di kota orang adalah pulang kampung :-D. Tak beda denganku :-D. Gimana nggak tu, liburan sama aja dengan perbaikan gizi haha yah walaupun pulang dengan perasaan H2C alias harap – harap cemas menunggu nilai – nilai yang belum keluar 
Nah untuk posting kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku ketika pulang ke Banjarnegara ( kotaku tercinta :-p )
Jum’at, 13 Januari 2012
Dengan senyum yang mengembang di bibir, aku berpamitan kepada ibu kos untuk pulang ke Banjar karena libur semester telah datang. Tak lupa kupanjatkan doa ketika keluar dari pintu gerbang kos. Dengan beban yang lumayan berat di punggung ( karena aku bawa tas punggung yang berisi laptop dan sedikit barang pesenan dari ibu ) aku jalan pelan – pelan ke selter bus Trnas Jogja. Dari selter aku naik bus Trans Jogja 2A kalo nggak 2B, aku lupa ( padahal dah sering tapi masih aja lupa ) 😀 dan turun di terminal Jombor. Setelah turun dari trans, aku naik bus jurusan Jogja – Semarang. Waktu masuk ke bus, gilaaaaaa…. ternyata dah penuh guys . Hanya tinggal beberapa kursi aja. Untungnya ada mbak yang lumayan gendut ( sebenarnya bukan lumayan lagi sih, tapi emang gendut ) yang mau geser ke tempat duduk tengah, dan di sampingnya ada seorang bapak – bapak atau mas – mas, aku nggak tau, pokoknya setau aku doi berkelamin cowok! Jadi kita duduk bertiga, orang kursinya emang buat tiga orang 😛 Sebenarnya yang jadi masalah bukan itu, tapi karena mbak – mbaknya itu gendut, jadinya aku cuma kebagian tempat duduk dikit banget, huhuhu… Tapi tak apalah, yang penting masih bisa duduk, alhamdulillah…..
Setelah sampai di terminal Tidar, Magelang, lebih dari setengah penumpang di bus itu pun turun, termasuk aku. Baru turun dari bus langsung disambut sama para kondektur yang menawarkan jasa angkutan ke tempat tujuan masing – masing. Aku memilih bus jurusan Magelang – Wonosobo. Alhamdulillah, waktu naik ke bus bisa langsung dapat tempat duduk. Seperti biasa, aku memilih tempat duduk di dekat jendela yang sebelah kanan. Kenapa? Karena sewaktu berada di Kota Parakan, bisa melihat view yang subhanalloh indahnya, yaitu pemandangan Gunung Sindoro dan perkebunan teh  Lama perjalanan dari Magelang ke Wonosobo kira – kira memakan waktu 2 jam. Bisa kurang bisa lebih, banyak faktor yang mempengaruhinya.
Sesampainya di terminal Wonosobo, aku pun turun mencari bus jurusan Wonosobo – Purwokerto. Sebelum aku naik ke bus Wonosobo – Purwokerto, aku melihat ada bus jurusan Semarang – Purwokerto datang, dan seorang kondektur menawariku untuk naik bus tersebut, tapi aku malah menolaknya. Nggak tau alasannya apa, tapi aku reflek menolak. Akhirnya aku berjalan dan masuk ke bus Wonosobo – Purwokerto. Bersamaan dengan itu ada seorang bapak TNI ( kalo nggak salah ), juga masuk ke bus yang sama. Lagi – lagi aku memilih duduk di sebelah kiri dekat dengan jendela dan pintu keluar ( tapi yang bagian depan ) supaya gampang keluarnya nanti kalo udah sampai tujuan. Baru aja duduk, tiba – tiba ada seorang bapak yang menyapaku dan mengajak ngobrol. Ternyata beliau adalah kondektur busnya. Pertamanya aku kurang tau bapaknya ngomong apa, tapi lama – lama aku bisa mencernanya. Beliau bilang, katanya sering liat aku sehingga paham sama aku. Tiba – tiba muncul pertanyaan di pikiranku, hah? Sering liat aku? Paham sama aku? Perasaan sebelumnya aku belum pernah ketemu sama bapak ini deh… Trus beliau menjelaskan bahwa beliau sering malihat aku naik busnya, jadi beliau paham denganku. Oh begonoooo… Masya Alloh, berarti selama ini ada yang memperhatikanku tetapi aku malah kurang memperhatikan mereka!
Tak lama kemudian sopir busnya masuk dan bus pun mulai berjalan 😀 Kulihat sekeliling bus, ternyata cuma ada 2 penumpang, yaitu aku dan bapak TNI ( sekali lagi, mungkin TNI ), 1 orang sopir bus, dan 2 orang kondektur yang salah satu diantara mereka adalah bapak yang menyapa dan mengajakku ngobrol tadi. Waktu lagi asyik – asyik menikmati pemandangan sekitar, tiba – tiba aku dikagetkan dengan pemandangan yang asing di luar bus. Kok di kanan kiri jalan sawah – sawah sih, dan aku tersadar, itu bukan rute bus kota yang biasa dilewati! Wah, aku mulai panik, jantungku berdetak lebih kencang, dan tanganku pun gemeteran. Ni pikiran dah kemana – mana, secara aku cewek sendirian disitu! Apalagi teringat pemberitaan di tipi – tipi, banyak banget kejahatan di angkot Jakarta ( Yep, walaupun ini bukan Jakarta, dan kendaraan yang aku naiki bukan angkot tapi bus, tetap aja membuatku waspada ). Aku berusaha tenang dengan membaca doa, tapi kok malah tambah deg – degan, karena makin lama di kanan kiri kayak hutan! Wahh… langsung tambah berkecamuk ni pikiran! Karea uidah saking takutnya, akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya pada bapak kondektur yang tadi sempat mengajakku ngobrol.
Aku : “Pak, kok ini lewat sini?”
Kondektur : “Iya mbak, biar cepet.”
Aku : “Tapi kok jalannya kayak gini?”
Kondektur : “Iya mbak, soalnya kalo lewat jalan kota itu lama, banyak banget lampu lalu lintasnya”
Aku : “Nanti ini ujungnya mana pak?”
Kondektur : “Petigaan jalan kota mbak.”
Aneh! Masa bus kota lewat jalan terobosan kayak gini, mana mungkin bisa dapet penumpang! Emang sih, mungkin lebih cepat, tapi kan nggak dapet penumpang yah sama aja -_- wah wah… Dan aku pun jujur sama bapak kondekturnya kalo aku TAKUT! Dengan sabarnya, beliau pun menenangkanku, “ga apa – apa mbak, orang saya biasa lewat sini kok, saya juga paham sama mbaknya, udah nyante aja”. Tapi masih aja aku bilang takut sekali lagi. Akhirnya beliau pun kembali berkata, “udah tenang aja, kalo ada apa – apa nanti saya yang tanggung jawab”.
Karena aku bukan tipe orang yang mudah percaya sama orang, ya tetap aja mikir yang nggak – nggak! Gimana kalo bapak kondekturnya cuma pura – pura paham sama aku?!
Kuamati pemandangan di luar bus, tiba – tiba aku melihat banyak kendaraan bersliweran, dan aku pun menyadari apakah ini pertigaan jalan kota yang dimaksud bapaknya? Ternyata benar, bapaknya pun tersenyum sambil berkata, “ini mbak, dah sampai jalan kota”. Dengan senyum malu – malu aku jawab. “oh inggih pak…” hehehhe…..
Huaaaahhhhhh :-O Malu banget rasanya dah su’udhan sama bapak sopir dan kedua kondekturnya yang baik itu  Tapi dosakah aku bila bersu’udhan terlebih dahulu ketika berada dalam kondisi tersebut???

Iklan

2 pemikiran pada “Dosakah Bila Aku Bersu’udhan Terlebih Dahulu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s